Nostalgia Hari Ini: Awal Buruk Tapi Berakhir Indah buat Semen Padang

Football5Star.com – Hari ini, 23 April dua tahun yang lalu merupakan awal perjalanan mimpi Semen Padang promosi ke Liga 1. Sebab, pada 23 April 2018 lalu, Liga 2 2018 resmi dimulai.

Semen Padang mengawali Liga 2 2018 sebenarnya dengan buruk. Tim berjuluk Kabau Sirah itu dibantai tiga gol tanpa balas oleh tuan rumah Persis Solo di Stadion Manahan.

Akan tetapi, kekalahan tersebut nyatanya tak membuat mereka begitu saja menyerah. Dimulai dari kemenangan di markas PSIR Rembang, Semen Padang bahkan sempat menjalani tujuh laga secara beruntun meraih kemenangan di Wilayah Barat.

Bahkan, pada ujung pertandingan Wilayah Barat, Kabau Sirah jua mampu membalaskan dendam ke Persis Solo. Mereka akhirnya berhak lolos ke fase delapan besar Liga 2 dengan status jawara Wilayah Barat. Tim yang kala itu dibesut Syafrianto Rusli berhasil mengumpulkan 39 poin dari 22 pertandingan.

Tribun

Pada babak delapan besar, Kabau Sirah kembali melanjutkan kecermelangannya. Satu grup dengan Kalteng Putra, PSMP Mojokerto dan Aceh United, mereka keluar sebagai yang paling terbaik. Semen Padang berhasil meraih 10 poin, sama dengan Kalteng Putra tapi unggul head to head.

Performa apik pasukan Syafrianto Rusli itu berlanjut hingga ke babak semifinal. Bermain dalam dua leg, Semen Padang sebenarnya kalah dalam partai pertama usai Ryan Kurnia jadi penentu kemenangan Persita.

Dok. Kompas

Akan tetapi, pada pertandingan kedua mereka bangkit dengan menang 3-1 berkat gol Novrianysha, Afriansyah dan Irsyad Maulana. Semen Padang berhasil melaju ke final dengan agregat 3-2 atas Persita.

Meski akhirnya kalah 0-2 dari PSS SLeman di partai puncak, tapi setidaknya awal buruk kekalahan dari Persis Solo diakhiri dengan promosi ke Liga 1 2019. Sayang memang, Kabau Srah cuma mampu bertahan semusim di Liga 1 karena kembali terdegradasi musim lalu.

The post Nostalgia Hari Ini: Awal Buruk Tapi Berakhir Indah buat Semen Padang appeared first on Berita Bola Terupdate, Live Score, Jadwal & Klasemen – Football5star.com.

Nostalgia Hari Ini: Persik Beri Pelajaran Semifinalis Piala Dunia

Football5Star.com – Hari ini, 12 April bertepatan dengan aksi gemilang Persik Kediri di pentas Liga Champions Asia. Pada 2007 silam, mereka menunjukkan sengatannya dan memberikan pelajaran kepada klub Australia, Sydney FC.

Hal itu terjadi pada Liga Champions Asia 2007 lalu. Persik Kediri saat itu memang masuk ke dalam grup neraka. Mereka bergabung bersama Urawa Red Diamond, Sydney FC, dan Shanghai Shenhua di Grup E.

Macan Putih, julukan Persik, memang memulai Grup E dengan kurang baik. Mereka saat itu dibantai tiga gol tanpa balas oleh Urawa Red Diamond di Saitama Stadium.

Akan tetapi, Persik Kediri yang kala itu diperkuat pemain seperti Ronald Fagundez, Danilo Fernando, Erol FX Iba, Budi Sudarsono, hingga Kurnia Sandy, bangkit pada pertandingan kedua. Mereka berhasil menang di laga kedua melawan Shanghai Shenhua. Saat itu, gol Bertha Yuana menjadi penentu.

Nah, pada partai ketiga Macan Putih berhasil melanjutkan performa positifnya. Pada 12 April 2007, mereka berhasil menang 2-1 atas Sydney FC melalui gol Aris Budi Prasetyo dan Budi Sudarsono. Ini menjadi pelajaran buat Sydney FC. Sebab, mereka sebenarnya sempat unggul gol cepat melalui Steve Corica saat laga baru berjalan delapan menit di Stadion Manahan kala itu.

Meski memang saat itu Sydney FC harus bermain dengan 10 orang setelah Zadkovic menerima kartu kuning keduanya lantaran melanggara Bertha Yuana Putra. Tapi tetap saja, kemenangan ini langsung menjadi sorotan. Apalagi pada laga sebelumnya, klub Australia itu mampu menahan Urawa Reds Diamonds di Jepang. Mereka jua berstatus semifinalis Piala Dunia Antar-klub pada 2005 silam.

Gagal Pertahankan Momentum

Dalam laga kandang selanjutnya, Persik jua menunjukkan keangkerannya. Gantian menjamu Urawa Reds, mereka sukses menahan imbang klub Jepang itu. Kala itu skor 3-3 berakhir di Stadion Mahanan setelah dua gol Cristian Gonzales, dan Budi Sudarsono dibalas tiga gol Urawa via Shinji Ono, Robson Ponte, dan Yuki Abe.

Akan tetapi, sayangnya Persik Kediri gagal memanfaatkan momentum kala itu. Kekalahan 0-3 di markas Sydney FC, dan 0-6 di kandang Shanghai Shenhua, membuat mereka hanya mampu finis di urutan ketiga klasemen Grup E.

Meski demikian, kemenangan Persik atas Sydney FC 12 April 2007 silam masih dikenang. Sebab, hal itu kian mempererat hubungan Indonesia dan Australia.

Duta Besar Australia untuk Indonesia kala itu, Bill Farmer menyampaikan penghargaannya atas sambutan hangat yang diberikan kepada Sydney FC di Solo. Bermain bersama dalam pertandingan olahraga adalah kesempatan baik untuk membangun persahabatan antara rakyat kedua negara kita,” kata Dubes Farmer dalam laman resmi Indonesia Embassy.

“Manajemen Klub Sepakbola Sydney telah meminta saya untuk menyampaikan penghargaannya yang khusus kepada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Persik Kediri, Persis Solo sebagai panitia penyelenggara dan Pemerintah Indonesia,” lanjut dia.

The post Nostalgia Hari Ini: Persik Beri Pelajaran Semifinalis Piala Dunia appeared first on Berita Bola Terupdate, Live Score, Jadwal & Klasemen – Football5star.com.

Nostalgia Hari Ini: PSIS Juara Liga Indonesia 1998-99

Football5Star.com, Indonesia – Pada 9 April 1999, tepat 21 tahun yang lalu, publik sepak bola Indonesia dikejutkan dengan PSIS Semarang yang berhasil menjadi juara Liga Indonesia yang pada saat itu disebut Ligina pada musim 1998-99. Mengapa dikejutkan? Karena pada saat itu PSIS sama sekali tidak diunggulkan untuk menjadi juara.

Pada saat itu sistem liga tidak seperti saat ini. Liga memiliki 3 divisi, divisi barat, tengah dan timur. Masing-masing divisi mempunyai dua grup kecuali divisi timur hanya satu grup. Ada 28 tim yang ikut berkompetisi. 2 tim terbaik dari masing-masing grup akan masuk ke babak 10 besar, sedangkan 4 tim terburuk dari 5 grup tersebut akan masuk ke babak play-off degradasi.

PSIS tergabung dalam grup 4 divisi tengah, bersama Persebaya, Barito Putra, Persema, dan Gelora Dewata. PSIS sebenarnya tampil buruk dengan hanya meraih dua imbang dan satu kalah dalam tiga laga awal. Tetapi dia bisa memenangkan tiga pertandingan dari enam pertandingan sisa. PSIS lolos sebagai runner-up dengan perolehan 11 poin, hanya berjarak satu poin dari posisi ketiga Barito Putra.

ForzaPSIS

Laskar Mahesa Jenar lalu lolos ke babak 10 besar dan tergabung di grup A. Mereka lagi-lagi bertemu dengan Persebaya. Selain itu juga ada Semen Padang, Persikota Tangerang, dan Petrokimia Putra. Berbeda dengan babak awal yang memakai sistem kandang-tandang. Di babak 10 besar akan selalu bermain di tempat netral dan Jakarta yang menjadi tuan rumahnya. Pasukan Ali Sunan dkk. berhasil meraih 2 kali menang, 1 kali imbang, dan 1 kali kalah. Mereka lagi-lagi lolos ke semi final sebagai runner-up dengan perolehan 7 poin.

Pada laga semi final, PSIS harus menghadapi tuan rumah Persija Pusat yang menjadi juara grup B. Persija sangat jauh diunggulkan mengingat mereka sebagai tuan rumah dan rekor mereka hanya kalah satu kali sepanjang musim. Tetapi Laskar Mahesa Jenar secara mengejutkan menang 1-0 lewat gol dari pemain asing mereka Ebanda Timothy.

Tapi sayang kemenangan itu harus dibayar mahal oleh suporter PSIS karena sebelum pertandingan ada 11 orang suporter meninggal dalam dua kecelakaan yang berbeda. Peristiwa itu dinamai Tragedi Lenteng Agung.

Karena peristiwa itulah, partai final yang sebelumnya akan diadakan di Jakarta, harus dipindah jauh ke Stadion Klabat, Manado.

Babak Final

ForzaPSIS

Barulah tepat pada hari ini 21 tahun yang lalu, 9 April 1999, partai Final Liga Indonesia musim 1998-99 diadakan. PSIS lagi-lagi harus bertemu dengan Persebaya.

Persebaya jauh diunggulkan pada saat itu, bagaimana tidak. Mereka sudah bertemu total tiga kali dalam babak sebelumnya dan PSIS sama sekali belum pernah menang. Jangankan menang, PSIS bahkan sama sekali belum bisa mencetak gol ke gawang kiper Persebaya, Hendro Kartiko, yang pada saat itu merupakan kiper Timnas. Bajul Ijo pada saat itu juga diisi oleh pemain bintang seperti Aji Santoso, Anang Ma’ruf, Uston Nawawi, Bejo Sugiantoro, dll.

Tapi, PSIS berhasil menahan gempuran dari pemain-pemain bintang Persebaya, sampai puncaknya pada menit ke-89. Agung Setyabudi mengirim umpan jauh ke ‘Maradona dari Purwodadi’ Tugiyo, lalu Tugiyo berhasil menceploskan bola ke gawang Hendro Kartiko. Skor 1-0 bertahan hingga akhir, dan PSIS dinobatkan menjadi Juara untuk pertama kalinya sejak tahun 1987 era perserikatan.

Skuad Pas-pasan

Jika dibandingkan dengan skuad Persebaya, skuad Laskar Mahesa Jenar jauh dari kata bagus. Bahkan bisa dibilang PSIS terselamatkan karena pada saat itu klub Arseto Solo baru saja dibubarkan. Ada 3 pemain bintang Arseto Solo yang bergabung ke PSIS, yaitu Agung Setyabudi, I Komang Putra, dan Ali Sunan yang dinobatkan sebagi kapten.

Tetapi menurut Agung Prasetyo kunci dari keberhasilan PSIS adalah kekompakan.

“Saat itu PSIS mainnya kompak. Gajian sering telat, tapi pemain tetap kompak. Tidak ada gaji ya tidak ada latihan bareng, sebagai bentuk protes saja. Tapi kami bisa membuktikannya di lapangan,” ucap Agung.

PSIS saat ini bermain di Liga 1 Indonesia, setelah mereka berhasil promosi dari Liga 2 pada tahun 2017.

The post Nostalgia Hari Ini: PSIS Juara Liga Indonesia 1998-99 appeared first on Berita Bola Terupdate, Live Score, Jadwal & Klasemen – Football5star.com.